Home » » Kepada Yang Terhormat Umat Islam Di Indonesia

Kepada Yang Terhormat Umat Islam Di Indonesia

Written By Direktur Iklan on Selasa, 15 Februari 2011 | 06.40

Belakangan ini banyak sekali kejadian-kejadian di negara kita yang membuat saya merinding melihatnya. Mulai dari tragedi Cikuesik sampai Temanggung, saya tidak akan membahas masalah ini. Negara kita adalah negara yang mempunyai penganut Islam terbesar di dunia. Seharusnya kita dapat memberikan contoh kepada negara lain bagaimana membentuk sebuah masyarakat Islami yang menjunjung tinggi nilai kemanusian dan ketuhanan.

Saya teringat ilustrasi masyarakat Islami yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah diskusi agama di kampus, ketika saya masih menjadi mahasiswa. Seorang mukmin menurut Nabi harus hidup di tengah rekan-rekannya, ia memandang mereka tidak sebagai orang asing, tetapi sebagai bagian dari dirinya. Ketika tingkah laku orang lain membuatnya bahagia, maka ia harus menyadari dari hal ini apa yang akan membuat orang lain bahagia, dan bertindak menurutnya.

Sebaliknya, ketika ia merasa tertekan oleh tingkah laku orang lain, maka ia harus sadar betapa akan terganggunya orang lain jika kita melakukan hal yang sama, oleh karena itu ia berhati-hati untuk tidak memperlakukan orang lain demikian. Perasaan bagi satu sama lain dalam setiap komunitas Muslim harus begitu kuat sehingga keseluruhan kerangka sosial menjadi sebagaimana sebuah tubuh yang satu, artinya ketika salah satu tubuh merasakan sakit, maka bagian tubuh yang lain segera akan merasakannya juga. Dari sisi ini, kesukaran yang dialami oleh seorang Muslim dengan cepat akan menjalar pada Muslim yang lain yang mereka sendiri tidak akan merasakan tenang hingga mereka melepaskan saudaranya dari kesukaran itu.


Setiap Muslim harus siap untuk menolong satu sama lain pada saat dibutuhkan, seolah-olah mereka bertindak demi kepentingannya sendiri. Misalnya, ketika seseorang melihat orang terlantar dan miskin, maka ia harus berpikir seolah-olah ia sendiri, bukan orang lain. Dengan adanya perasaan ini di dalam hati seseorang, maka ia tidak dapat membiarkan begitu saja saudaranya berada dalam kesukaran. Semua perbuatan seseorang harus dilakukan dengan semangat kerendahan hati dan dengan kesadaran untuk berbuat adil bagi semua. Jika itu terjadi tidak akan ada lagi sikap arogan, menegaskan keunggulan seseorang atau bahkan merasa iri terhadap setiap orang yang lebih unggul dalam hal-hal tertentu.

Jika hal itu telah menjadi sikap yang menyeluruh, maka tidak ada seorang pun yang akan pernah berpikir boleh menumpahkan darah muslim yang lain, tidak peduli betapa besar kesalahan yang telah ditimbulkannya. Sebuah masyarakat dimana setiap orang berlaku adil kepada yang lainnya, dan terus berharap kebaikan bagi yang lainnya akan terikat menjadi sebuah kesatuan yang luar biasa. Semakin kuat suasana saling berniat baik, maka semakin tinggi tingkat persatuan.

Jika kita umpamakan para anggota masyarkat dari sebuah masyarakat Muslim sebagai batu-batu bata yang menyusun sebuah bangunan yang kokoh, maka kita melihat bagaimana tiap-tiap batu bata yang melekat kuat dengan batu bata yang lain. Tiap-tiap batu bata mungkin merupakan sebuah entitas yang terpisah, tetapi keterkaitannya dengan batu bata yang lain selalu dekat dan tidak pernah berada dalam konflik, merupakan keterkaitan yang saling membutuhkan dan harmoni. Inilah fungsi batu bata, tidak untuk menghancurkan bagunan, tetapi untuk memperkokohnya. Ia tidak berusaha untuk menentukan bangunan menurut gayanya sendiri, tetapi semata-mata mengikutkan dirinya ke dalam bentuk apa pun yang akan menghasilkan sebuah struktur yang kokoh dan tahan lama.

Apakah yang dibutuhkan agar masyarakat Islami semacam itu dapat terwujud? Jawabannya sederhana, yaitu orang-orang harus memiliki rasa takut kepada Tuhan. Rahasia dari seluruh kebaikan di dunia ini adalah perasaan takut kepada Tuhan, sementara ketiadaan perasaan takut ini menjadi akar dari seluruh kejelekan. Tidak ada pengendali yang lebih baik atas tindakan individu selain kesadaran bahwa Tuhan akan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya. Ketika manusia hampir dikuasai sejumlah insting-insting kebinatangan, atau ia merasa tergoda untuk menonjolkan dirinya dengan mengorbankan kehormatan, harga diri dan kepentingan personal orang lain. Hanya ada satu hal yag dapat mengendalikan dorongan-dorongan semacam itu sehingga ia tidak keluar dari jalan keadilan, yaitu keyakinan pasti bahwa segala persoalan akan dihakimi Tuhan dan tidak ada seorang pun yang dapat lepas dari siksa akibat perbuatan-perbuatan jeleknya.

Dalam rangka memperingati Maulud Nabi Besar Muhammad SAW saya berharap kepada yang terhormat umat Islam di Indonesia semua untuk selalu hidup rukun, untuk menyudahi pertikaian yang pernah ada, bukan hak kita untuk mengatakan seorang itu salah atau benar. Pertumpahan darah bukan jalan untuk menyelesaikan masalah. Jangan gampang terhasut oleh pihak-pihak yang berusaha untuk memecah belah persatuan, ingatlah selalu kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang hanya Dia yang berhak untuk mengadili umatnya.
Share this article :
 
Copyright © 2012. puteri widyasari - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger