Home » » Singa Tanpa Buntut, Telinga dan Perut

Singa Tanpa Buntut, Telinga dan Perut

Written By Direktur Iklan on Kamis, 17 Februari 2011 | 23.08

Saya sarankan bagi anda yang akan membaca artikel ini jangan heran, saya tidak akan memberikan gambaran seekor singa yang seperti pada judul diatas, anda sendiri yang akan menggambarkannya.  Saya nggak begitu ngerti politik, musik, ataupun berita selebritis disini saya hanya ingin membuat anda terhibur.  Bagi anda yang belum pernah melihat binatang ini, anda harus membacanya sampai selesai. Nanti di akhir cerita anda pasti tahu, seperti apa sih singa tanpa buntut, telinga, dan perut itu, ikuti kisahnya berikut ini :

Kisah ini melibatkan seekor singa dan seorang manusia, meskipun seperti yang akan kita lihat, kisahnya sangatlah berbeda. Merupakan suatu kebisaan bagi penduduk Qazwin (anda jangan tanya dimana, saya juga nggak tahu) untuk membuat tato di tubuh, tangan, dan bahu mereka, sebab mereka percaya hal itu bisa menjauhkan iblis dan kesialan dari mereka. Bukanlah suatu kebetulan kalau suatu hari ada seorang pria di kota itu pergi ke tukang cukur (karena pada jaman itu para tukang cukurlah yang menato orang-orang) dan memintanya untuk menato pundaknya.

“Gambar apa yang kau inginkan untuk tatomu, wahai pelangganku yang pemberani?” tanya si tukang pangkas.

“Gambarlah tato seekor singa yang galak dan garang. Semakin tampak galak dan garang semakin baik,” kata pria itu. Pria itu kemudian melanjutkan,”Asal kau tahu, aku dilahirkan di bawah rasi Leo, dan hanya seekor singa garang yang bisa memuaskan orang yang terlahir di bawah rasi ini.”

Lantas si tukang pangkas meminta pria itu untuk duduk di atas sebuah kursi dan menanggalkan bajunya, sementara dia sibuk menyiapkan jarum untuk menggambar tato. Namun, tak lama kemudian, sesudah si tukang pangkas dengan lembut menusukkan jarum ke pundak pria itu untuk mengukur dengan tepat dimana harus memulai rancangan gambar itu, si pria menjerit-jerit kesakitan.

“Hati-hati dong (saya lupa kalau jaman dulu nggak ada orang yang bilang “dong”), Kau menyakitiku! Aku tak kebal dari rasa sakit. Boleh kau tanya apa yang sedang aku gambar?”

Tukang pangkas yang bingung itu menjawab, “Seekor singa seperti yang kau minta.”

“Dan boleh aku tanya, bagian apa yang mau kau buat terlebih dahulu?” si pria itu kembali bertanya.

“Ekornya, aku biasanya mulai dengan bagian ekornya,” jawab tukang pangkas itu.

“Kalo begitu aku mohon padamu untuk menghilangkan ekornya. Seekor singa tak akan kalah garang jika ia tak punya ekor. Hapus ekornya karena tusukan jarum itu nyaris membuat jantungku copot.”

Setelah itu, si tukang cukur mulai bekerja lagi, tapi sekali lagi, tak lama setelah menusukkan jarum, pria itu menjerit keras-keras. “Bagian tubuh apa yang sedang kau gambar kini?” teriaknya.

“Ini telinganya,” ujar si tukang pangkas.

“Kalau begitu biarkan tanpa telinga! Seekor singa tak butuh mendengar untuk membunuh mangsanya, aku mohon tolong hilangkan telinganya!” kembali si pria itu memohon.

Kemudian si tukang pangkas mulai bekerja kembali dan sekali lagi pria itu berteriak-teriak kesakitan. “Bagian apa lagi kini, wahai tukang pangkas?”

“Ini perut si singa……” sambil agak jengkel dia menjawab.

“Biarkan ia tak punya perut kalau begitu. Gambar ini sudah cukup, mengapa membutuhkan sebuah perut?” kembali si pria itu memaksa.

Kini sang tukang pangkas pun membanting jarumnya dengan penuh kemarahan. “Siapakah orang yang pernah melihat seekor singa tanpa sebuah buntut, telinga dan perut? Tuan yang baik, kau datang padaku dan meminta ditato dengan gambar seekor singa yang galak yang paling garang di daerah sini, kau tekankan ini padaku. Tapi segera setelah aku tusukkan ujung jarum di atas bahumu kau menjerit-jerit kesakitan. Pertama tak usah ada ekor, lalu tak usah ada telinga, dan sekarang tak perlu ada perut! Kau minta singa yang galak dan garang tapi takut untuk menahan rasa sakit yang bisa mengesankan rasa galak dan garang itu pada dirimu. Kecuali kau bisa menahan rasa sakit dengan sabar, bagaimana kau bisa berharap mencapai sesuatu?”

Nah, itu tadi ceritanya, maaf bagi para pembaca jika artikel ini tidak sesuai dengan judulnya, nggak ada gambar singa tanpa buntut, telinga dan perut. Saya sendiri juga tidak bisa membayangkan apa ada binatang yang seperti. Jika anda kecewa anda bisa lihat gambar ini, mungkin bisa membuat anda sedikit terhibur. Saya berharap anda dapat mememetik sebuah pelajaran dari ulasan diatas.

Sumber : The Kingdom of Joy (Untaian Kisah Menawan dari Matsnawi Rumi)
Share this article :
 
Copyright © 2012. puteri widyasari - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger